Rabu, 23 Oktober 2019

KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim.


Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya dengan limpahanrahmat, taufik dan hidayah-Nyalah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Salawat sertasalam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikut- pengikutnya hingga akhir zaman. Penyusunan makalah ini dibuat Penulis dalam rangka memenuhi tugas mata kuliahIlmu dakwah.Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini.Namun,Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi Penulis pada khususnya pembaca pada umumnya.


Wassalamualaikum Wr. Wb

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG


Masyarakat merupakan sebuah komunitas yang tak dapat dipisahkan dari budaya.Budaya itu yang kemudian membedakan antar satu komunitas dengan komunitas yang lain.Budaya berpengaruh pula terhadap adat kebiasaan, pola pikir serta sikap setiap individuyang tergabung di dalamnya. Orang sunda berbeda dengan orang batak dari berbagai sisi,mulai bahasa, etika serta standar kepribadiannya. Begitu pula dengan etnis-etnis lain yangada di Indonesia bahkan di dunia.Di era Nabi Muhammad, masyarakat Arab kala itu tersusun atas klan-klan suku. NabiMuhammad terlahir dan besar di tengah suku yang terpandang di jazirah Arab kala itu, yakni Quraisy. Islam datang sebagai agama yang “menuntun” masyarakat Arab agar melaksanakan perintah Tuhan Allah, serta meninggalkan sesembahan nenek moyang mereka yaitu dewi-dewi banatullah Al-Latta, Al-Uzza dan Al-Mannat. Perjuangan Nabi ini tidak mudah sebabsetiap klan tidak menyetujui ajaran monotheisme yang diajarkan Nabi Muhammad. Dengan kegigihannya, Islam pun berkembang hingga saat ini.Islamisasi masyarakat Arab yang dilanjutkan dengan Islamisasi masyarakat dunia ini dapatdilakukan dengan suatu aktivitas bernama dakwah. Banyak hal-hal yang berkaitan dengandakwah dan akan diurai dalam makalah ini, terutama dari pengertian dan ruang lingkupnya


B. RUMUSAN MASALAH


Rumusan yang menjadi master of question dalam makalah ini adalah :
1. Apa itu dakwah dan hal-hal yang berkaitan dengannya?


2. Kenapa dakwah begitu diperlukan?


3. Di mana dan kapan saat yang tepat bagi seorang da’i itu
bedakwah?


4. Bagaimankah materi yang mampu menunjang efektivitas kegiatan dakwah??




BAB II
PEMBAHASANA.

PENGERTIAN DAKWAH

Dakwah menurut etimologi (bahasa) berasal dari kata bahasa Arab : da’a –byad’u – da’watan yang berarti mengajak, menyeru, dan memanggil*
1]. Di antara makna dakwahsecara bahasa adalah:  An-Nida artinya memanggil; da’a filanun Ika fulanah, artinya si fulan mengundang fulanah  Menyeru, ad-du’a ila syai’i, artinya menyeru dan mendorong pada sesuatu
Dalam dunia dakwah, rang yang berdakwah biasa disebut Da’i dan orang yang menerima
dakwah atau orang yang di
dakwahi disebut dengan Mad’u
Dalam pengertian istilah dakwah diartikan sebagai berikut:


1. Prof. Toha Yaahya Oemar menyatakan bahwa dakwah Islam sebagai upaya mengajakumat dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhanuntuk kemaslahatan di dunia dan akhirat.


2. Syaikh Ali Makhfudz, dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin memberikan definisi dakwahsebagai berikut: dakwah Islam yaitu; mendorong manusia agar berbuat kebaikan danmengikuti petunjuk (hidayah), menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah darikemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.


3. Hamzah Ya’qub mengatakan bahwa dakwah adalah mengajak umat manusia dengan hikmah (kebijaksanaan) untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.


4. Menurut Prof Dr. Hamka dakwah adalah seruan panggilan untuk menganut suatupendirian yang ada dasarnya berkonotasi positif dengan substansi terletak pada aktivitas yang memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar.

5. Syaikh Muhammad Abduh mengatakan bahwa dakwah adalah menyeru kepada kebaikandan mencegah dari kemungkaran adalah fardlu yang diwajibkan kepada setiap muslim.



Dari beberapa definisi di atas secara singkat dapat disimpulkan bahwa dakwahmerupakan suatu aktivitas yang
dilakukan oleh informan (da’i) untuk menyampaikaninformasi kepada pendengar (mad’u) mengenai kebaikan dan mencegah keburukan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan menyeru, mengajak atau kegiatan persuasiflainnya. Dakwah menjadikan perilaku Muslim dalam menjalankan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin yang harus didakwahkan kepada seluruh manusia, yang dalam prosesnyamelibatkan unsur: da’i (subyek), maaddah (materi), thoriqoh (metode), wasilah (media), danmad’u (objek) dalam mencapai maqashid (t
ujuan) dakwah yang melekat dengan tujuanIslam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.Islam sebagai agama merupakan penerus dari risalah-risalah yang dibawa nabi terdahulu,terutama agama-agama samawi seperti Yahudi dan Nasrani. Islam diturunkan karenaterjadinya distorsi ajaran agama, baik karena hilangnya sumber ajaran agama sebelumnyaataupun pengubahan yang dilakukan pengikutnya. Dalam agama Nasrani misalnya, hinggasaat ini belum ditemukan kitab suci yang asli.Karena dakwah merupakan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah tidak selalu berkisar pada permasalahan agama seperti pengajian atau kegiatan yang dianggap sebagaikegiatan keagamaan lainnya. Paling tidak ada tiga pola yang dapat dipahami mengenai dakwah.




a. Dakwah Kultural


Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang mendekatkan pendekatan IslamKultural, yaitu: salah satu pendekatan yang berusaha meninjau kembali kaitan doktrinasiyang formal antara Islam dan negara. Dakwah kultural merupakan dakwah yang mendekati objek dakwah (mad’u) dengan memperhatikan aspek sosial budaya yang berlaku pada masyarakat. Seperti yang telah dilaksanakan para muballigh dahulu (yang dikenal sebagaiwalisongo) di mana mereka mengajarkan Islam menggunakan adat istiadat dan tradisi lokal. Pendekatan dakwah melalui kultural ini yang menyebabkan banyak masyarakat yangtertarik masuk Islam. Hingga kinibdakwah kultural ini masih dilestarikan oleh sebagian umatIslam di Indonesia.



b. Dakwah Politik


Dakwah politik adalah gerakan dakwah yang dilakukan dengan menggunakan kekuasaan(pemerintah); aktivis dakwah bergerak mendakwahkan ajaran Islam supaya Islam dapatdijadikan ideologi negara, atau paling tidak setiap kebijakan pemerintah atau negara selaludiwarnai dengan nilai-nilai ajaran Islam sehingga ajaran Islam melandasi kehidupan politikbangsa. Negara dipandang pula sebagai alat dakwah yang paling strategis.Dakwah politik disebut pula sebagai dakwah struktural. Kekuatan dakwah struktural inipada umumnya terletak pada doktrinasi yang dipropagandakannya. Beberapa kelompokIslam gigih memperjuangkan dakwah jenis ini menurut pemahamannya.


c. Dakwah Ekonomi


Dakwah ekonomi adalah aktivitas dakwah umat Islam yang berusahamengimplementasikan ajaran Islam yang berhubungan dengan proses-proses ekonomi gunapeningkatan kesejahteraan umat Islam. Dakwah ekonomi berusaha untuk mengajak umatIslam meningkatkan ekonomi dan kesejahteraannya. Ajaran Islam dalam kategori ini antaralain; jual-beli, pesanan, zakat, infak dan lain sebagainya.


Makna “dakwah” juga berdekatan dengan konsep ta’lim, tadzkir, dan tashwir. Ta’lim
berarti mengajar, tujuannya menambah pengetahuan orang yang diajar, kegiatannyabersifat promotif yaitu meningkatkan pengetahuan, sedang objeknya adalah orang yangmasih kurang pengetahuannya. Tadzkir berarti mengingatkan dengan tujuan memperbaikidan mengingatkan pada orang yang lupa terhadap tugasnya sebagai serang muslim. Karenaitu kegiatan ini bersifat reparatif atau memperbaiki sikap, dan perilaku yang rusak akibatpengaruh lingkungan keluarga dan sosial budaya yang kurang baik, objeknya jelas merekayang sedang lupa akan tugas dan perannya sebagai muslim.


Tashwir berarti melukiskan sesuatu pada alam pikiran seorang, tujuannya membangkitkan pemahaman akan sesuatu melalui penggemaran atau penjelasan. Kegiatan ini bersifat propagatif, yaitu menanamkan ajaran agama kepada manusia, sehingga merekaterpengaruh untuk mengikutinya.




Dakwah yang diwajibkan tersebut berorientasi pada beberapa tujuan:1.

Membangun masyarakat Islam, sebagaimana para rasul Allah yang memulai dakwahnyadi kalangan masyarakat jahiliah. Mereka mengajak manusia untuk memeluk agama AllahSwt, menyampaikan wahyu-Nyan kepada kaumnya, dan memperingatkan mereka darisyirik.2.

Dakwah dengan melakukan perbaikan pada masyarakat Islam yang terkena musibah.Seperti penyimpangan dan berbagai kemungkaran, serta pengabaian masyarakattersebut terhadap segenap kewajiban.3.

Memelihara kelangsungan dakwah di kalangan masyarakat yang telah berpegang padakebenaran, melalui pengajaran secara terus-menerus, pengingatan, penyucian jiwa, danpendidikan.

B. LANDASAN DAKWAH


Dakwah merupakan kewajiban yang syar’i. Hal ini sebagaimana tercantum di dalam Al
-
Qur’an maupun As
-Sunnah.Beberapa Ayat Dakwah


 

  

 

      

     

     

   

   

 

  



 

 

  

  

 

 

    

 

  

     

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan
-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik danbantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebihmengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahuiorang-
orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An
-Nahl [16]:125)
   

  

  

  

 

   

  

    

   

 

   

  

 

     

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang
-orang
yang beruntung.”
(Q.S. Ali Imran [3]: 104)



Senin, 30 September 2019

Logistik Dakwah

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,syukur kepada allah yang telah memberikan hidayahnya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW,suri teladan yang telah membawa kita dari jaman kebodohan kejaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan.


Pada kesempatan kali ini,dengan penuh syukur kami mengucapkan terimah kasih kepada kedua orang tua kami atas segala doa dan harapan besar yang harus kami pertanggung jawabkan. kami merasa sangat berharga dengan semua itu sehingga dengan penuh semangat bias menyelesaikan penyusunan makalah ini.


Meskipun demikain, tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu,segala kesalahan dan kekhilafan yang ada mohon di malumi






































































BAB I


PENDAHULUAN






A. LATAR BELAKANG


Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada AllahSubhaanahu wa ta'ala sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Dalam berdakwah tentunya kita harus mempersiapkan materi, metode, dan tentunya adalah kelancaran saat kegiatan dakwah berlangsung. Kelancaran saat kegiatan dakwah berlangsung tentunya tak lepas dari persiapan yang matang dan semua aspek pedukungnya yaitu berupa logistik dakwah.


Logistik dakwah adalah segala sesuatu hal yang mendukung jalannya dakwah, berupa uang dan barang yang dapat digunakan dalam dakwah.






B. TUJUAN


Tujuan dari makalah ini adalah untuk membahas tentang logistic dakwah yang terdiri dari jenis , sumber, dan manfaat nya untuk kegiatan dakwah.






C. RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan logistic dakwah?


2. Apa sajakah sumber dari logistik dakwah itu?


3. Apa manfaat logistik dakwah dalam kegiatan dakwah?






















































BAB II


PEMBAHASAN






A. PENGERTIAN LOGISTIK DAKWAH


a. LOGISTIK


Ø Menurut bahasa


Kata logistik menurut bahasa (wikipedia) adalah “ Kata logistik berasal dari bahasa Yunani logos (λόγος) yang berarti “rasio, kata, kalkulasi, alasan, pembicaraan, orasi”. Kata logistik memiliki asal kata dari Bahasa Perancis loger yaitu untuk menginapkan atau menyediakan.”






Ø Menurut istilah


Sedangkan menurut istilah, logistik berarti merupakan suatu ilmu pengetahuan atau seni serta proses mengenai perencaanaan dan penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan,penyaluran dan pemeliharaan serta penghapusan material-material / alat-alat.






b. PENGERTIAN LOGISTIK DALAM DAKWAH


Adalah segala sesuatu yang menyangkut pembiayaan dan peralatan dakwah yang digunakan untuk mencapai tujuan dakwah baik berupa uang atau barang serta segala sesuatu yang digunakan untuk kelangsungan dan kelancaran dakwah itu sendiri.






c. MACAM MACAM LOGISTIK DAKWAH


Ø Uang


Dalam berdakwah, uang diperlukan sebagai alat untuk memenuhi kabutuhan dakwah. Sebagai contoh dalam pengajian rutin, dibutuhkan konsumsi, uang transport da’i, uang sewa alat, tenda dll, serta dana cadangan tak terduga. Semua itu dibutuhkan (tidak wajib) untuk kelancaran dakwah tersebut.


Ø Barang


Barang yang diperlukan sebagai sarana, alat dan segala sesuatu yang mendukung jalanya dakwah. Contoh : tikar, pengeras suara, lampu, dll.


















B. SUMBER LOGISTIK DAKWAH


a. Infaq


Infaq adalah mengeluarkan harta yang mencakup zakat dan non zakat. Infaq ada yang wajib dan ada yang sunnah. Infaq wajib di antaranya zakat, kafarat, nadzar, dll. Infak sunnah di antara nya, infak kepada fakir miskin sesama muslim, infak bencana alam, infak kemanusiaan, dll.


Infaq bukan merupakan sumber logistic utama, akan tetapi merupakan salah satu sumber pendanaan dakwah yang rutin.


Contoh : Infaq pengajian, infaq sholat jum’at, dan infaq bulan ramadahan.




Hibah


Hibah sama artinya dengan istilah pemberian. Adapun secara istilah, hibah berarti memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan apa-apa.


Hibah dalam kautanya dengan logistic dakwah adalah pemberian barang atau sejumlah uang untuk kepentingan dakwah.


Contoh : Seseorang memberikan sejumlah makanan untuk konsumsi mad’u, seseorang memeberikan uang pada panitia pengajian untuk mengadakan pengajian di daerah nya.




Hadiah


Hadiah seperti hal nya dengan hibah, tetapi identik dengan barang.




Sumbangan


Sumbangan juga termasuk dalam sumber logistic dakwah. Sumbangan dapat berwujud jasa, barang, dan uang. Sumbangan biasanya bersifat suka rela.


Contoh : masyarakat menyumbang jasa berupa gotong royong membersihkan tempat untuk dakwah










c. Bantuan (kerja sama)


Bantuan atau kerja sama adalah sumber logistic dakwah yang besar dalam bentuk uang tentunya, bisa juga berupa barang tergantung kesepakatan antar pihak. Kerja sama disini berarti pengurus sebuah majelis merekrut beberapa perusahaan / lembaga untukmenjadi donator utama, tetap atau hanya sekali itu saja. Bukti kerja sama ini tertuang dalam sebuah proposal dari pihak pengurus majelis dengan perusahaan / lembaga yang juga menyetujui adanya kerja sama antara mereka.






C. MANFAAT LOGISTIK DAKWAH






Beberapa manfaat yang didapat dengan adanya logistic yang digunakan dalam berdakwah adalah :




sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sarana dan pra sarana dalam berdakwah
dapat mendukung kegiatan dakwah yang dilakukan
memperlancar tercapainya tujuan dakwah
melatih berorganisasi, tanggung jawab, dan mengelola keuangan.






























































BAB III


PENUTUP






A. KESIMPULAN






Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah tentang logistic dakwah ini adalah :






Ada banyak factor yang mempengaruhi berhasilnya dakwah tersebut mencapai tujuannya, salah satu factor atau aspeknya adalah logistic dakwah, fungsi logistic dakwah disini adalah sebagai alat untuk memberikan sarana dan pra sarana dalam berdakwah. Adapun sumber dari logistic dakwah ini adalah infaq, hibah, sodaqoh, hadiah, sumbangan, dan bantuan atau kerja sama. Logistic dakwah ini biasanya berbentuk materi baik itu unag ataupun barang.






B. KRITIK DAN SARAN






Kritik dan saran yang membangun sangat di butuhkan untuk penulis angar kelak penulis dapat membuat makalah yang lebih baik lagi.









































Makalah Dakwah Antar Budaya

RUANG LINGKUP DAKWAH ANTAR BUDAYA



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan salah satu tugas matakuliah ini pada waktu yang telah ditentukan dalam keadaan sehat wal afiat.
Shalawat beserta Salam semoga tercurah kepada jungjunan alam yakni habibanawa nabiana Muhammad SAW, kepada para keluarganya, para sahabatnya, tabi’it dan tabi’in, sampai kepada kita semua sang umatnya.
Tidak ada kata seindah rasa syukur. Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan salah satu tugas matakuliah Dakwah antar Budaya, yang di ampu oleh Bapak Drs.Tjetjep Fachruddin HS, M.Ag.
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritiknya demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat dijadikan bahan pembelajaran dan bermanfaat bagi para pembaca dan umumnya bagi semua masyarakat (amin)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Umat Islam dituntut menjadi orang yang baik dan menjadi penyebar kebaikan. Dakwah menjadi salah satu kewajiban seorang Muslim. Hal tersebut telah disinggung dalam Al-Qur’an *QS.An-Nahl: 125. Dakwah bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan; terutama jika dakwah dilakukan dengan orang yang memiliki perbedaan bahasa, ras, dan budaya.
Perbedaan budaya dapat menjadi konflik atau kesulitan tersendiri dalam menyebarkan dakwah di masyarakat luas. Jika konflik terjadi, maka ekspetasi masyarakat baldatun thayyibatun wa ghafuur, yakni negeri aman nan elok yang ada dalam naungan ampunan Allah Swt hanya akan menjadi wacana belaka.
Segelintir masyarakat tidak tahu apa dan bagaiamana metodologi dakwah antar budaya, bahkan sebagian yang lainnya tidak ingin tahu menahu persoalan intern dakwah antar budaya, juga dikarenakan adanya tugas pembuatan makalah tentang “RUANG LINGKUP DAKWAH ANTAR BUDAYA” melatarbelakangi penulisan makalah ini.
1.2 Rumusan Masalah
· Apa definisi budaya, kebudayaan dan dakwah antar budaya?
· Apa saja Unsur-Unsur Kebudayaan?
· Bagaimana ruang lingkup dakwah antar budaya?
· Apa saja Konflik dakwah antar budaya?
· Bagaimana metodologi dakwah antar budaya?
1.3 Tujuan Penulisan
Ø Mengenali, mengetahui, menganalisis dan memahami: budaya, kebudayaan, unsur-unsur kebudayaan, ruang lingkup dakwah antar budaya, konflik dakwah antar budaya dan metodologi dakwah antar budaya.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Budaya, Kebudayaan dan Dakwah antar Budaya.
1. Budaya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Budaya adalah suatu Cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sedangkan menurut Roger M Keesing dalam artikelnya yang bertajuk Teori-Teori Budaya, beliau mengatakan bahwa budaya adalah warisan tingkah laku simbolik yang membuat manusia menjadi “manusia” Jadi dengan memperhatikan gerak perubahan dan keanekaragaman individualitas, kita tidak dapat lagi dengan mudah berkata bahwa "satu budaya" adalah satu warisan yang dimiliki bersama oleh sekelompok manusia dalam suatu masyarakat tertentu.
2. Kebudayaan
Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal.Sedangkan ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Tylor dalam buku yang berjudul “Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmupengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.
Pada sisi yang agak berbeda, Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkanya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupanan masyarakat.
Secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia, yang meliputi:
a) Kebudayaan materiil (bersifat jasmaniah), yang meliputi benda-benda ciptaan manusia. Misalnya kendaraan, alat rumah tangga, dan lain-lain.
b) Kebudayaan non-materiil (bersifat rohaniah), yaitu semua hal yang tidak dapat dilihat dan diraba, misalnya agama, bahasa, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.
2. Kebudayaan itu tidak diwariskan secara generative (biologis), melainkan hanya mungkin diperoleh dengan cara belajar.
3. Kebudayaan diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tanpa masyarakat kemungkinannya sangat kecil untuk membentuk kebudayaan. Sebaliknya, tanpa kebudayaan tidak mungkin manusia (secara individual maupun kelompok) dapat mempertahankan kehidupannya. Jadi, kebudayaan adalah hampir semua tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
3. Dakwah antar Budaya


Setelah mengetahui artikel diatas, tentu kita akan memahami maksud dari dakwah antar budaya. Antara lain:
a. Dakwah antar budaya adalah terapan dakwah yang dilakukan antar dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda.
b. Dakwah antar budaya merupakan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang dan budayanya.
c. Dakwah antar budaya adalah pengalihan inforrmasi dari seseorang berkebudayaan tertentu kepada seseorang yang berkebudayaan lain.
B. Unsur-unsur Kebudayaan
Mempelajari unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah kebudayaan sangat penting untuk memahami kebudayaan manusia. Kluckhon dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culturemembagi kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia dari sistem kebudayaan yang sederhana seperti masyarakat pedesaan hingga sistem kebudayaan yang kompleks seperti masyarakat perkotaan. Kluckhon membagi sistem kebudayaan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal atau disebut dengan kultural universal. Menurut Koentjaraningrat, istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut adalah:
1. Sistem Bahasa
Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya. Dalam ilmu antropologi, studi mengenai bahasa disebut dengan istilah antropologi linguistik. Menurut Keesing, kemampuan manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman tentang fenomena sosial yang diungkapkan secara simbolik, dan mewariskannya kepada generasi penerusnya sangat bergantung pada bahasa. Dengan demikian, bahasa menduduki porsi yang penting dalam analisa kebudayaan manusia.
Menurut Koentjaraningrat, unsur bahasa atau sistem perlambangan manusia secara lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi adalah deskripsi tentang ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan beserta variasi-variasi dari bahasa itu. Ciri-ciri menonjol dari bahasa suku bangsa tersebut dapat diuraikan dengan cara membandingkannya dalam klasifikasi bahasa-bahasa sedunia pada rumpun, subrumpun, keluarga dan subkeluarga. Menurut Koentjaraningrat menentukan batas daerah penyebaran suatu bahasa tidak mudah karena daerah perbatasan tempat tinggal individu merupakan tempat yang sangat intensif dalam berinteraksi sehingga proses saling memengaruhi perkembangan bahasa sering terjadi.
2. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia. Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya.
Masyarakat pedesaan yang hidup dari bertani akan memiliki sistem kalender pertanian tradisional yang disebut system pranatamangsa yang sejak dahulu telah digunakan oleh nenek moyang untuk menjalankan aktivitas pertaniannya. Menurut Marsono, pranatamangsa dalam masyarakat Jawa sudah digunakan sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sistem pranatamangsa digunakan untuk menentukan kaitan antara tingkat curah hujan dengan kemarau. Melalui sistem ini, para petani akan mengetahui kapan saat mulai mengolah tanah, saat menanam, dan saat memanen hasil pertaniannya karena semua aktivitas pertaniannya didasarkan pada siklus peristiwa alam. Sedangkan Masyarakat daerah pesisir pantai yang bekerja sebagai nelayan menggantungkan hidupnya dari laut sehingga mereka harus mengetahui kondisi laut untuk menentukan saat yang baik untuk menangkap ikan di laut. Pengetahuan tentang kondisi laut tersebut diperoleh melalui tanda-tanda atau letak gugusan bintang di langit.
Banyak suku bangsa yang tidak dapat bertahan hidup, apabila mereka tidak mengetahui dengan teliti pada musim apa berbagai jenis ikan pindah ke hulu sungai. Selain itu, manusia tidak dapat membuat alat-alat apabila tidak mengetahui dengan teliti ciri-ciri bahan mentah yang mereka pakai untuk membuat alat-alat tersebut. Tiap kebudayaan selalu mempunyai suatu himpunan pengetahuan tentang alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, benda, dan manusia yang ada di sekitarnya. Menurut Koentjaraningrat, setiap suku bangsa di dunia memiliki pengetahuan mengenai, antara lain:
a. Alam sekitarnya.
b. Tumbuhan yang tubuh di sekitar daerah tempat tinggalnya.
c. Binatang hidup di daerah tempat tinggalnya.
d. Zat-zat, bahan mentah, dan benda-benda dalam lingkungannya.
e. Tubuh manusia.
f. Sifat-sifat dan tingkah laku manusia.
g. Ruang dan waktu.
3. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan organisasi social merupakan usaha antropologi untuk memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial. Menurut Koentjaraningrat tiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan dasar adalah kerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kerabat yang lain. Selanjutnya, manusia akan digolongkan ke dalam tingkatan-tingkatan lokalitas geografis untuk membentuk organisasi sosial dalam kehidupannya. Kekerabatan berkaitan dengan pengertian tentang perkawinan dalam suatu masyarakat karena perkawinan merupakan inti atau dasar pembentukan suatu komunitas atau organisasi sosial.
4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam memahami kebudayaan manusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai suatu masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan hidup dengan bentuk dan teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan bahasan kebudayaan fisik.
5. Sistem Ekonomi/Mata Pencaharian
Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu masyarakat menjadi fokus kajian penting etnografi. Penelitian etnografi mengenai sistem mata pencaharian mengkaji bagaimana cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain:
a. Berburu dan meramu
b. Berternak
c. Bercocok tanam
d. Nelayan
Pada saat ini hanya sedikit sistem mata pencaharian atau ekonomi suatu masyarakat yang berbasiskan pada sektor pertanian. Artinya, pengelolaan sumber daya alam secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam sektor pertanian hanya bisa ditemukan di daerah pedesaan yang relatif belum terpengaruh oleh arus modernisasi.
Pada saat ini pekerjaan sebagai karyawan kantor menjadi sumber penghasilan utama dalam mencari nafkah. Setelah berkembangnya sistem industri mengubah pola hidup manusia untuk tidak mengandalkan mata pencaharian hidupnya dari subsistensi hasil produksi pertaniannya. Di dalam masyarakat industri, seseorang mengandalkan pendidikan dan keterampilannya dalam mencari pekerjaan.


6. Sistem Religi
Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut.
Dalam usaha untuk memecahkan pertanyaan mendasar yang menjadi penyebab lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial berasumsi bahwa religi suku-suku bangsa di luar Eropa adalah sisa dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh umat manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaan mereka masih primitif.
Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari penelitian etnografi mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni, seperti patung, ukiran, dan hiasan. Penulisan etnografi awal tentang unsur seni pada kebudayaan manusia lebih mengarah pada teknik-teknik dan proses pembuatan benda seni tersebut. Selain itu, deskripsi etnografi awal tersebut juga meneliti perkembangan seni musik, seni tari, dan seni drama dalam suatu masyarakat.
Berdasarkan jenisnya, seni rupa terdiri atas seni patung, seni relief, seni ukir, seni lukis, dan seni rias. Seni musik terdiri atas seni vokal dan instrumental, sedangkan seni sastra terdiri atas prosa dan puisi. Selain itu, terdapat seni gerak dan seni tari, yakni seni yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran maupun penglihatan. Jenis seni tradisional adalah wayang, ketoprak, tari, ludruk, dan lenong. Sedangkan seni modern adalah film, lagu, dan koreografi.


C. Ruang Lingkup Dakwah antar Budaya
Ruang lingkup antar budaya tidak jauh seperti ruang lingkup dakwah aan tetapi ada penambahan atau perlebihan dibagian-bagiannya. Seperti yang telah di bahas bahwa ruang lingkup dakwah antar budaya terbagi menjadi dua yaitu secara illegal dan budaya. Akan tetapi yang akan saya bahas hanya sebagian daripada itu. Ruang lingkup antar budaya sangatlah luas akan tetapi tidak lepas dari hukum (syara’). العدت ة وامحكمة “ yang tidak bertentangan dengan adat”. Karena setiap orang, setiap tempat wilayah dan lingkungan mempunyai kondisi sosial
Masykurotus Syarifah – Budaya dan Kearifan Dakwah budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatannya pun berbeda pula. Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi:
1. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan
mad’u yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.
2. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, materi, metode, media,
mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
3. Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.
4. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis.
5. Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing (Aripudin, 2012. (55-56).


Kegiatan dakwah di masyarakat, dan di media Massa selama ini, relatif telah responsif, terhadap kondisi masyarakat yang modern. Setidaknya telah berupaya agar pesan-pesan keagamaan yang disampaikan bisa diterima secara baik. Mereka biasa menggunakan berbagai metode dalam berdakwah. Namun masih menjadi pertanyaan besar: apakah substansi dakwah telah menyesuaikan dengan kemajemukan dan ataukeperbedaan kultur di masyarakat; Apakah kebijakan dakwah multikultur telah terformulasi dengan baik. Demikian juga para da’i sebagai narasumber atau aktor, supaya mempunyai kemampuan meramu kemajemukan tersebut dengan memperhatikan; isi atau pesan-pesan yang disampaikan, metode penyampaian, narasumber atau da’i yang berperan serta media yang digunakan.
Akan tetapi hal itu tidak lepas dari tujuan dakwah sendiri seperti yang tertera dari landasan Al-Quran itu sendiri:




۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ


Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.


Oleh karena itu dakwah antar budaya mempunyai ruang lingkup yang di batasi untuk melakukannya.


D. Konflik Dakwah antar Budaya


Faktor-faktor terjadinya konflik dimungkinkan oleh faktor internal (konflik yang muncul dari dalam diri manusia) dan faktor eksternal (penyebab konflik yang berasal dari luar dirinya).
1. Konflik Intra-Individu dan Budaya
Konflik ini terjadi pada tingkat intraindividu (fi al-nafsiah), karena pertarungan kekuatan-kekuatan potensi “ilham fujur” (inspirasi buruk) atau potensi syaitaniah (potensi menolak ketuhanan atauhanif atau al-Islam) yang ada pada diri manusia dan potensi kekuatan ilham takwa(potensi ajaran moral ketuhanan). Konflik pada manusia tidak hanya terjadi antarindividu. Konflik pada tingkat intrabudaya jauh lebih dashyat yang disebabkan oleh aktualisasi ilham fujur ketika berinteraksi antarindividu dengan mengedepankan perbedaan, keinginan, kepentingan (vested interest), dan masing-masing ingin menang sendiri. Selain faktor-faktor penyebab konflik tersebut, masih terdapat banyak bentuk konflik kemanusiaan yang umumnya disebabkan oleh faktor persaingan memperoleh kehidupan di duniawi yang tanpa batas dan mengesampingkan keseimbangan sosial maupun alam untuk mencapai cita-cita tersebut.
2. Konflik Antarbudaya
Konflik antarbudaya umumnya terjadi karena perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan. Mengacu pada konteks dakwah, yaitu aktifitas kuantitas da’i dan mad’u ketika berinteraksi melakukan internalisasi, transmisi, transformasi, dan difusi ajaran Islam bentuk dakwah dalam aspek budaya dapat dilakukan dalam konteks dakwah sebagai berikut:
A. Dakwah Intra Dan Antar Budaya
Yakni mengajak manusia dalam hal ini dirinya (ego atau keakuannya) oleh kesadaran dirinya sebagai solusi problematika konflik dalam diri individu dengan dakwahnafsiyah (da’i dan mad’unya diri sendiri). Metode yanng digunakan dalam dakwah nafsiyah, antara lain:
1. Wiqayah al-nafsiyah(pemeliharaan diri sendiri) baik jasmani maupun rohani, misalnya memakan makanan yang bergizi dan halal, memperbanyak zikir.
2. Tazkiyah al-nafsiyah (mensucikan jiwa). misalnya salat malam / tahajud, bermuhasabah (instropeksi diri).
3. Memenangkan quwwah aqliyah (daya kecerdasan intelektual), seperti banyak membaca dan berdiskusi terhadap quwah ghadhabiyah (daya kemarahan) seperti berwatak reaktif, bermalas-malasan, marah serta wahmiyah syahwatiyah (daya perangkap setan) seperti bersenang-senang dan berfoya-foya atau perilaku hedonis.
4. Dakwah Fardiyah (da’i dan mad’u masing-masing satu orang) Bagi solusi konflik antar individu dalam suatu budaya. Metode yang digunakan, yaitu hikmah pendekatan ilmiah (jujur, berbicara sesuai objeknya, sitematis, dukungan fakta, singkat dan padat), mauizhah hasanah(teladan yang baik, pelajaran yang benar), mujadalah bi al-lati hiya ahsan(dialog, berdebat, dan diskusi), ta’aruf (perkenalan, pertukaran budaya positif), tausyiah(berwasiat dalam kebaikan), ta’lim (pembelajaran),uswah hasanah (percontohan yang baik).


B. Tablig (Penyebaran Informasi Ajaran Islam) atau Dakwah Umah Sebagai Bentuk Kegiatan Dakwah Antarbudaya.
Metode yang digunakan, antara lain, yaitu ta’aruf(pertukaran budaya) atas dasar kebebasan memilih, ta’awun ala al-birr(saling menolong dalam kebaikan),ta’alau ila kalimatin sawa(berpegang pada kalimat persamaan), di’ayatul khair (propaganda kebaikan), tabsysir (pemberian penghargaan), tasyhir (pembuktian kebenaran), indzar dan sirajan munira (peringatan dan penyuluhan),mushahabah fi al-dunya ma’rufa (bekerja sama dalam urusan duniawi), tsamuh walatasubu ma’budahum (toleransi tidak saling mencaci), ijtinab (saling menghindari pertengkaran dan perbuatan setan), lakum dinukum waliyadin (sepakat dalam perbedaan keyakinan / agree indisagreement), a’maluna a’malukum (tegas dalam memegang prinsip), dan amar ma’ruf nahyi munkar (menegakkan kearifan dan mencegah kerusakan).


E. Metodologi Dakwah antar Budaya
Gerakan dakwah yang dilakukan Rasulullah adalah gerakan yang penuh berkah (ash-shahwah al-mubarakah); gerakan yang penuh moderat (Shahwah mu’tadilah), terpadu, terkendali, berkesinamung dan jauh dari unsur ekstrimisme (at-tatharruf). Setiap melaksanakan dakwah, setiap da’i harus selalu mengikuti prinsip gerakan dakwah Rasulullah Saw, karena telah terbukti keberhasilannya. Seorang da’i harus mampu memilih media dan metode dakwah yang relevan dengan kondisi mad’u yang telah dipelajari secara komprehensif dan berkesinambungan. Kegiatan dakwah yang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi mad’u akan lebih memberikan dampak, karena kemudian dakwah dilakukan dengan media dan metode yang sesuai.
Kebudayaan merupakan salah satu ciri kebearadaan manusia di muka bumi. Dakwah mau tidak mau harus melibatkan hal yang satu ini dalam usahanya. Kita tidak akan mampu mengeneralisir kebudayaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Kebudayaan manusia, awalnya muncul karena adanya manusia, namu dalam perkembangannya, manusia lebih dipengaruhi oleh kebudayaan yang ada.
Menarik, mendalam, dan menerus adalah syarat penerapan dakwah dalam ranah kebudayaan, kalau kita memahami kebudayaan sebagai hasil cipta karya, dan rasa manusia. Influentif, sabar, tegas, persuasif, dan proporsiaonal adalah hal selanjutnya yang harus menjadi ukuran kegiatan dakwah, kalau kita memahami kebudayaan sebagai norma, pola hidup, dan nilai di dalam suatu masyarakat.
Membuat karya budaya sarat dakwah seperti wayang dakwah, cerita, dongeng, drama yang berisi pesan dakwah persuasif dan inklusif, design pakaian islam yang modern dan syar’i bisa kita lakukan sebagai langkah dakwah alternatif. Keteladanan, karya nyata, penyuluhan, bhakti sosial juga bisa dilakukan untuk menginternalisasikan cahaya islam kepada masyarakat.
jMetodologi atau Nilai Guna
Dakwah antarbudaya sebagai salah satu bidang kajian ilmu dakwah dalam menjelaskan dirinya dapat menempuh prosedur penalaran sebagai berikut:
Pertama, metode istinbati, yaitu penalaran dalam menjelaskan objek kajian dakwah antarbudaya dengan cara menurunkan dari isyarat-isyarat Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kedua, metode iqtibasi, yaitu penalaran dalam menjelaskan objek kajian dakwah antarbudaya dengan meminjam pemikiran-pemikiran produk para pakar dakwah yang bersumber pada Qur’an dan Sunnah, meminjam teori-teori yang digunakan oleh disiplin antropologi secara kritis. Ketiga, metode istiqra’i, yakni penalaran yang objek kajian dakwah antarbudaya dengan menggunakan prosedur kerja metode ilmiah, dan untuk kerja ini yang berkaitan dengan metodologi Ilmu Dakwah menjadi kajian istinbati metode ini.








BAB III
PENUTUP
Ø Kesimpulan
· Budaya berasal dari bahasa sanskerta “budhaya” yaitu bentuk jamak dari Budhi yang berarti budi atau akal.
· Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupanan masyarakat.
· Dakwah antar budaya ialah dakwah yang dilakukan antar orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda.
· Ada 7 Unsur dalam sebuah Budaya yaitu: Sistem Bahasa, Sistem Pengetahuan, Sistem Kekerabatan dan Organisasi sosial, Sistem Peralatan hidup dan Teknologi, Sistem Ekonomi atau mata Pencaharian, Sistem Kesenian dan terakhir ialah Sistem Religi.
· Ruang lingkup dakwah meliputi: Unsur-unsur dan Upaya dakwah terhadap karakteristik manusia yang memiliki suku, etnis dan kebudayaan yang berbeda-beda. Serta mengkaji problematika yang ada didalamnya.
· Konfik dakwah antar Budaya terdiri dari: Konflik Intra-Individu budaya dan Konflik antar budaya. Adapun penyelesaiaannya dapat dilakukan dengan dua metodologi yang berbeda yaitu: a. Dakwah Intra-antar budaya dan b. Tabligh.
· Dakwah antar Budaya dapat dilakukan dengan metode Istinbath, Istiqroi, dan Iqtibash



DAFTAR PUSTAKA
-Aripudin, Acep. 2012. Dakwah antarbudaya;Rosda, -BandungKoentjaraningrat.1998. Pengantar Antropologi II; Rineka Cipta, Jakarta.
- Munandar, Sulaeman.2012.Ilmu Budaya Dasar; Refiks Aditama,Bandung.
-[Materi]_Bab_04_kebudayaan_dan_masyarakat.pdf